Senin, 20 November 2017

LOMBA MENULIS CERPEN

Untuk informasi Lomba selengkapnya, silahkan cek di fb: Ani Nuriyani.
Salam Literasi 😊

Rabu, 06 September 2017

Black walet


Jika kamu mengalami masalah pada kulit, jangan bingung... karena BLACK WALET solusinya.
.
YuUuk jangan hanya jadi stalker
Segera rasakan sensasi sehatnya dari BLACK WALET yang tentunya bikin ketagihan.
.
"Eh mbak ini bukan makanan, ko ketagihan sih?"
"Emang iya, siapa bilang ini makanan. Jika ini produk yang aman kenapa mau pilih yang lain, iya kan? 😉😎

WA: 085294218410

Selasa, 07 Juni 2016

Merajut Mimpi, Meraih Cita-cita



Tugas 4   : Kelas KMO
Pemateri : Ernawatililys

Begitu banyak pilihan yang tersedia dalam hidup, pilihlah sesuai dengan keyakinan jangan terpengaruh dengan rayuan orang lain. Karena hidup itu tentang prinsip dan semangat pantang menyerah. Delapan tahun yang lalu saya lebih memilih untuk melanjutkan ke sebuah sekolah menengah kejuruan karena berdasarkan informasi yang didapat lulusan SMK lebih berpeluang untuk bekerja agar nantinya saya bisa belajar hidup mandiri dan bertanggung jawab atas diri saya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya kelas XI SMK saya bertemu dengan seorang guru matematika yang baru, dengan perawakan yang tinggi, berkulit putih, iris mata yang tajam dan terkesan cerdas. Semenjak itu, dalam hati kecilnya terbersit sebuah keinginan untuk menjadi seorang guru. Hal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, tapi walau bagaimanapun kita harus berani bermimpi besar dan tetap berusaha untuk menggapainya. Apapun yang terjadi, kita itu jangan hanya menjadi penonton, tapi jadilah pemain. Bukankah lebih baik terjatuh setelah mencoba, dari pada berdiam di tempat dengan rasa penasaran? Lebih baik melakukan sekali walaupun gagal, dari pada berpikir seribu kali tanpa melakukan apa-apa. Gagal itu biasa, tapi mencoba lagi itu luar biasa. Seorang pemenang tidak pernah menyerah, karena yang menyerah tidak akan pernah menang. Seperti sebuah peribahasa gantungkan mimpimu setinggi langit. Mimpi itu haruslah besar atau tinggi bagaikan langit karena setidaknya jika kau tak mampu menggapainya sampai ke langit, bisa saja kau mampu menggapainya sampai ke awan atau setidaknya sampai ke tiang listrik, tapi jika mimpimu hanya sebatas pohon tauge, jika kau tak mampu menggapainya mungkin saja akan langsung jatuh terjerembab ke tanah.

Perpisahan sudah di depan mata dan saya pun tidak bisa mewujudkan mimpi baru itu karena tidak akan kuliah. Itulah hasil negosiasi yang didapat dengan orang tua pada waktu itu. Mungkin alasan terbesarnya karena jurusan yang ingin saya ambil berbeda dengan waktu di SMK. Meskipun begitu, saya tidak berkecil hati dan menyampaikan rencana pertama untuk bekerja di suatu apotek ternama di Jakarta karena beberapa bulan yang lalu pernah mengikuti tes yang diselenggarakan di sekolah dan dinyatakan lolos. Sesuai waktu yang disetujui dikontrak kerja, saya pun berangkat ke Jakarta memulai cerita baru disana dan mengorbankan mimpi untuk menjadi seorang guru sementara waktu. Meskipun begitu saya tidak lupa selalu berdoa berharap keinginan saya bisa tercapai baik tahun depan atau tahun depannya lagi. Di sana saya mendapatkan banyak rekan kerja, mulai dari yang sebaya hingga yang usianya jauh diatas saya. Mereka berasal dari berbagai pulau yang berbeda, ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Sulawasi, Kalimantan dan yang lainnya. Selain bekerja, di Head Office apoteknya diadakan training untuk meningkatkan kemampuan karyawannya, baik dalam praktek ataupun pemahaman mengenai teorinya, juga selalu diadakan remidial jika hasil kuis di training kurang dari standar yang telah ditentukan. Training itu bagaikan bangku kuliah kedua bagi mereka yang pernah memakan bangku kuliah, lain halnya dengan saya itu adalah bangku kuliah pertama.

Ketika libur kerja saya membiasakan untuk selalu membaca baik itu cerita atau pun yang lainnya. Nah,  dari kebiasaan tersebut timbul suatu keinginan dalam hati kecil saya untuk menjadi seorang penulis agar mampu menebar manfaat dari apa yang saya tulis. Sejak saat itu saya pun mencoba untuk menulis dan menguploadnya di facebook agar banyak yang memberi komentar, selain itu saya pun mengikuti seleksi admin pemegang grup kepenulisan agar yang memberi komentar lebih banyak dan saya juga sering megikuti event kepenulisan untuk mengasah kemampuan dalam menulis. Meskipun gagal berkali-kali saya tidak pernah menyerah. Berkat kerja keras itu akhirnya saya pernah menjadi kontributor beberapa kali di penerbit yang berbeda juga juara pertama walaupun hanya sekali.

Beberapa bulan kemudian, orang tua saya memberi kabar bahwa mereka berubah pikiran. Memberi ijin untuk kuliah di universitas dan jurusan yang saya inginkan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, setelah genap setahun bekerja saya pun resign karena universitas yang diinginkan ada di kota kelahiran. Meskipun keinginan untuk kuliah baru tercapai, saya tetap bersyukur karena selain bisa kuliah juga pernah merasakan bagaimana dunia kerja dan hidup diperantauan tanpa sanak saudara dalam usia yang terbilang remaja.

Ketika tingkat dua perkuliahan terbersit sebuah keinginan untuk meringankan beban orang tua apalagi ketika mengingat mereka yang akan menginjak kepala 6. Tak kuasa diri ini jika harus melihat mereka setiap hari bekerja keras banting tulang dari pukul 4 pagi hingga pukul 10 malam untuk membiayai kami sekeluarga. Sehingga aku pun selalu menyempatkan waktu untuk membantu mereka, sebelum dan sesudah kuliah. Apalagi hari libur aku selalu berusaha untuk menggantikan tugas mereka.  Untuk mewujudkan hal tersebut, saya pun mengikuti tes beasiswa. Namun sayang sekali, untuk yang pertama saya tidak lolos. Kemudian mengikuti lagi tes yang diselenggarakan di kampus, saya hanya masuk 20 besar kurang beruntung di tahap akhir, Jika saja otak ini tak dapat berpikir jernih pada saat itu, mungkin saja saya sudah  berteriak “Kenapa bukan saya yang mendapatkan beasiswa itu?. Meskipun kekecewaan telah menumpuk dalam hati, tapi saya harus menyadari, dalam event menulis saja penerbit memiliki kualifikasi sendiri untuk menentukan kontributornya, begitu juga dengan suatu instansi memiliki kualifikasi sendiri juga untuk menentukan pemenang beasiswanya. Saya yakin, Allah punya maksud dan rencana dibalik semua cerita yang saya jalani. saya percaya selalu ada pelangi selepas hujan, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap doa. Akhirnya perjuangan panjang membuahkan hasil. Saya mendapatkan beasiswa walaupun itu di tingkat akhir.

Sekarang saya hampir usai menimba ilmu di strata 1 perguruan tinggi tapi dalam hati kecil ini terbersit sebuah keinginan lain untuk menjadi seorang dosen dan saya pun akan berusaha untuk mewujudkannya. Untuk itu saya harus memiliki beberapa prinsip. Karena kita tidak tahu kapan mimpi kita bisa menjadi nyata, dan dari situlah kita harus berusaha dan berjuang agar kita dapat mewujudkannya. Setiap orang yang telah sukses pasti diawali dengan impian. Membangun impian dapat diibaratkan seseorang yang sedang membangun sebuah rumah. Awalnya kita harus membangun pondasi yang kokoh agar bila terjadi bencana alam mengakibatkan rumah yang kita bangun retak dan rusak, kita dapat membangunnya kembali. Begitu pula halnya bila kita sedang berusaha mewujudkan impian. Jika impian yang kita tanamkan sudah melekat sedemikian kuatnya dalam diri kita, kita akan siap untuk bangkit kembali jika seandainya kita mengalami hal yang tidak sesuai dengan harapan. Inilah prinsip yang saya pegang. Pertama, bisa mengenali ego diri sendiri. Kita harus tahu dari mana asal mula mimpi kita juga harus memantapkan keyakinan bahwa kita akan mampu mewujudkannya. Kedua, gigih dalam memperjuangkan mimpi. Kita harus berani untuk berkorban juga tak lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar yang kita harapkan bisa tercapai. Ketiga, bisa memaklumi kegagalan. Kita harus selalu berpikir positif atas apa yang terjadi meskipun itu sebuah kegagalan. Cobalah untuk belajar dari kegagalan itu. Keempat,  mampu melihat peluang. Untuk itu kita harus memperkaya wawasan dan berani mencoba untuk bangkit lagi jika apa yang kita dapatkan tidak sesuai harapan dengan mencari jalan lain yang lebih baik dari sebelumnya.

Senin, 06 Juni 2016

Kenangan Dibalik Pertemuan (CERPEN)


 
Hidup selalu menawarkan pilihan, tapi tidak ada pilihan tanpa konsekuensi. Begitu juga denganku, setelah lulus SMK Farmasi aku memilih untuk bekerja di sebuah apotek yang berada di Jakarta dan menunda dulu untuk melanjutkan kuliah. Di sana aku mendapatkan banyak rekan kerja, mulai dari yang sebaya hingga yang usianya jauh diatasku. Mereka berasal dari berbagai pulau yang berbeda, ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Sulawasi, Kalimantan dan yang lainnya. 

Di Jakarta aku tinggal satu kost dengan Nani yang berasal dari Jawa Tengah, dia adalah rekan kerja yang sebaya denganku. Dia sudah aku anggap sebagai saudara. Apalagi kami hanya tinggal sendiri tanpa ada sanak saudara. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk bertukar cerita tentang pengalaman kami, bertukar pikiran untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah yang ada, bahkan mengelilingi Ibu Kota Jakarta, baik ketika mendapat waktu libur yang sama, sudah pulang dari tempat kerja atau ketika mendapat giliran training pada waktu yang sama. 

Selain bekerja, di Head Office apotek kami selalu mengadakan training untuk meningkatkan kemampuan karyawannya, baik dalam praktek ataupun pemahaman mengenai teorinya, juga selalu diadakan Remidial jika hasil kuis kami di training kurang dari standar yang telah ditentukan. Untuk sampai di Head Office sekali perjalan kami memerlukan uang yang lumayan besar dan waktu yang lumayan lama.

Pada suatu malam, tepatnya di balkon kostan kami memikirkan solusi yang cocok untuk sampai di Head Office dengan mempertimbangkan waktu dan juga biaya yang harus kami keluarkan. Apalagi kami anak kost yang jauh dari orang tua, jadi harus mampu mengatur keuangan yang didapatkan dari hasil jerih payah kami dengan baik. Tidak ada salahnya ketika waktu di sekolah dulu kami diajarkan Administrasi, karena manfaatnya bisa kami rasakan sendiri.

“Nah, waktu pertama kita training, sekali perjalanan naik ojek itu Rp. 15.000 dan memerlukan waktu sekitar 15 menit, Kak Ani.” Ucap Nani, seperti biasa ketika dia memanggilku selalu memakai sebutan kakak, mungkin karena waktu masuk kerja aku lebih dulu dari dia satu bulan, tepatnya aku masuk bulan juni sementara dia masuk bulan juli.
“Kalau naik busway Rp. 3.500 dan memerlukan waktu sekitar 90 menit, trus kalau naik bajaj kamu tahu berapa, Nani?” Tanyaku.
“Kata mba Iid, Rp. 12.000 dan memerlukan waktu sekitar 20 menit dan kalau naik taksi Rp. 20.000.”
“Nah, bagaimana kalau kita cari jalan saja yang bisa dilewati dengan jalan kaki? selain menghemat uang sekalian olahraga juga.”
“Selain itu, bisa saja jalan yang kita temukan bermanfaat bagi teman kita yang lain.”
“Betul juga Nani, kalau begitu, nanti training ke 2 kita berangkat lebih cepat 1 jam sebelum waktu pelaksanaan.”
---
Akhirnya training ke 2 tiba, waktu satu jam yang kami sediakan itu digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menjadi detektif penemuan jalan baru, walaupun kami juga sama-sama tidak tahu apa-apa mengenai jalanan Ibu Kota. Tapi dengan adanya keberanian dan kemauan untuk mencoba, segala sesuatu pasti akan terlaksana.

"Alhamdulillah... ternyata perjuangan kita tidak sia-sia." Itulah yang bisa kami ucapkan dengan senyum merekah walaupun keringat sudah mengucur membasahi pelipis kami. Training pun bisa kami ikuti karena waktu yang kami gunakan untuk berjalan kaki hanya sekitar 30 menit, sehingga kami tiba di sana lebih cepat dari waktu pelaksanaan. Jika kami datang terlambat, maka kami tidak diperbolehkan masuk, hanya disuguhi pintu yang tertutup rapat dan kertas yang telah tertempel di sana dengan berisi tulisan bahwa kami tidak boleh masuk mengikuti training.

Selain pencarian jalan itu, masih banyak hal lain yang kami lakukan bersama, seperti mengelilingi tempat wisata yang ada di Jakarta, ke Monas yang membuat kami harus bolak-balik karena salah jalan pulang untuk menuju halte busway, ke Ancol untuk melihat sunset, ke Dufan karena alhamdulillah kami sama-sama mendapatkan reward sebagai karyawan terbaik, ke Ragunan yang membuat kami sempat tersesat di sana sehingga menyebabkan kami telat masuk kerja dan akhirnya mendapat teguran dari atasan, ke Kota Tua, ke Blok-M yang membuat kami kehabisan kendaraan umum untuk pulang ke kostan karena kemalaman. Semua itu mampu menyisakan kenangan tak terlupakan hingga sekarang, dan membuatku mampu mensyukuri hidup juga segala sesuatu yang diberikan Tuhan. Tapi walaupun begitu, janganlah hidup dalam kenangan. Biar kenangan itu hidup dan menyemangati kita. Karena kenangan tetaplah masa lalu. Itu adalah kisahku, kisah dimana aku harus menunda kuliah, memilih bekerja terlebih dahulu yang mengantarkan aku bertemu dengan seseorang yang mampu menginspirasi juga terinspirasi, dan sekarang kami harus terpisah ruang dan jarak demi mengejar cita-cita yang kami impikan, melanjutkan pendidikan di Universitas yang kami pilih, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang bertolak belakang dari jurusan SMK kami dulu. Tapi itulah pilihan kami. Semoga kami tersesat di jalan yang benar dan mampu menebar manfaat dengan segala sesuatu yang akan dan sedang kami laksanakan.

Kamis, 02 Juni 2016

MIND MAP & OUTLINE BUKU MERAJUT ASA, MERAIH CITA-CITA DAN BUKU MENANTI JODOH PILIHAN ILAHI

Mind Mapping dapat menghasilkan catatan yang memberikan banyak informasi dalam satu halaman. Sehingga daftar informasi yang panjang bisa dialihkan menjadi petakan yang berwarna-warni, sangat teratur dan mudah diingat yang selaras dengan cara kerja alami otak. Sedangkan outline/kerangka karangan merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan  teratur.

Nah, inilah mind map & outline buku Merajut Asa, Meraih Cita-cita dan buku Menanti Jodoh Pilihan Ilahi yang mudah-mudahan bisa saya buat.